Berita

Teaching Factory SMKN 3 Yogyakarta Dipercaya Merakit Bekalista, Wujud Nyata Pendidikan Vokasi Menghasilkan Karya untuk Bangsa

Yogyakarta – Pendidikan vokasi kembali menunjukkan kontribusi nyatanya dalam mendukung pembangunan nasional. Melalui Teaching Factory, SMKN 3 Yogyakarta dipercaya menjadi bagian dari proses produksi Becak Kayu Listrik Wisata (Bekalista) yang diproyeksikan untuk menggantikan maraknya Becak Motor (Bentor) yang semakin menjamur di Yogyakarta. Bekalista merupakan sebuah inovasi transportasi ramah lingkungan yang memadukan pelestarian budaya, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kepercayaan tersebut mendapat perhatian dalam peluncuran Bekalista yang diresmikan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, Ph.D., bersama Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Alun-alun Kidul Yogyakarta, Kamis (16/7).

“Sebagai bagian dari ekosistem pengembangan Bekalista, Teaching Factory SMKN 3 Yogyakarta berkontribusi dalam pembuatan beberapa sparepart, jasa pengelasan frame, pengecatan, perakitan dan pengujian untuk  memastikan Bekalista siap dioperasikan. Hal ini  merupakan implementasi nyata pembelajaran berbasis industri yang melibatkan guru dan murid secara langsung” jelas Drs. Winih Wicaksono, M.T.,Wakil Kepala Sekolah yang membidangi teaching factory dan unit produksi SMKN 3 Yogyakarta.

Dalam pelaksanaannya, proyek ini  mengkolaborasikan 4 Program keahlian, yaitu Teknik Otomotif, Teknik Elektronika, Teknik Listrik, dan Teknik Mesin. Sebanyak 12 guru dan sekitar 25–30 murid terlibat langsung dalam seluruh tahapan produksi yang bekerja mengikuti standar industri.

Proyek ini juga didampingi oleh konsultan dari industri yaitu PT LBI (Langit Biru Istimewa) dan PT. YPTI (Yogya Presisi Teknika Indonesia) yang melakukan quality control sparepart maupun produk jadi secara keseluruhan  hingga Bekalista layak untuk dioperasikan.

Menurut Winih, keterlibatan murid dalam proyek ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga membentuk budaya kerja industri yang menjadi karakter lulusan SMK. “Murid dibekali kemampuan membaca gambar teknik, melakukan stok opname, mengoperasikan peralatan mekanik dan elektrik, serta memahami sistem kerja Bekalista. Selain itu, mereka juga dibiasakan menerapkan budaya industri melalui penerapan 5R (Ringkas, rapi, Resik, rawat, rajin) dan membangun ekosistem kerja yang sehat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kepercayaan kepada SMKN 3 Yogyakarta diberikan karena didukung sumber daya manusia yang kompeten, lokasi yang strategis, fasilitas yang memadai, serta pengalaman sekolah dalam mengembangkan Teaching Factory sebagai bagian dari SMK BLUD (Badan layanan Umum Daerah).

Kepala SMKN 3 Yogyakarta, Widada, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa keterlibatan sekolah dalam proyek Bekalista merupakan sebuah kehormatan sekaligus amanah besar bagi pendidikan vokasi. “Kepercayaan ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak hanya berperan sebagai tempat belajar, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi nyata bagi kebutuhan bangsa melalui karya dan kompetensi yang dimiliki,” ujarnya.

Menurut Widada, keterlibatan dalam proyek riil memberikan pengalaman belajar yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran dikelas. Murid belajar menerapkan standar industri, pengendalian mutu, bekerja sesuai target produksi, hingga menyelesaikan pekerjaan secara profesional. “Pengalaman seperti inilah yang menjadi esensi Teaching Factory, sehingga lulusan SMK memiliki kompetensi, karakter kerja, dan daya saing yang tinggi ketika memasuki dunia kerja maupun berwirausaha,” tambahnya.

Apresiasi terhadap peran pendidikan vokasi juga disampaikan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Ir. Purbaya Yudhi Sadewa, Ph.D., dalam sambutannya.Pembangunan Bekalista melibatkan 100 persen tenaga lokal Yogyakarta, mulai dari pabrikasi, perakitan, kelistrikan hingga Teaching Factory di lingkungan pendidikan kejuruan, Buktinya “Bengkel induknya dipercayakan di SMK Negeri 3 Yogyakarta.” ujar Purbaya.

Ia juga menitipkan harapan agar SMKN 3 Yogyakarta terus mendukung keberlanjutan ekosistem Bekalista. “Saya titip stasiun pengisian daya harus benar-benar menyala, mudah digunakan, dan dikelola dengan baik,” pesannya.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menegaskan bahwa Bekalista merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang berhasil memadukan pelestarian budaya dengan inovasi teknologi. “Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan vokasi, pelaku usaha, dan komunitas pengemudi menunjukkan bahwa inovasi akan kuat apabila dibangun melalui kerja bersama,” tutur Sri Sultan.

Menurutnya, pelestarian budaya harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar tetap hidup dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. “Tradisi harus memperoleh dukungan teknologi agar tetap hidup, berdaya guna, dan memberi kehidupan yang lebih layak bagi manusia yang menjaganya,” imbuhnya.

Keberhasilan keterlibatan SMKN 3 Yogyakarta dan beberapa SMK lainnya dalam proyek Bekalista semakin mempertegas peran pendidikan vokasi sebagai mitra strategis pemerintah dan dunia industri dalam menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui model Teaching Factory, proses pembelajaran tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten, tetapi juga melahirkan karya nyata yang menjawab kebutuhan bangsa.

Ke depan, SMKN 3 Yogyakarta berkomitmen memperluas kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai mitra strategis lainnya. Langkah tersebut diharapkan semakin memperkuat ekosistem Teaching Factory sekaligus menjadikan sekolah sebagai pusat keunggulan pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, relevan dengan kebutuhan industri, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Indonesia.

Similar Posts