SMKN 3 Yogyakarta Sambut 720 Murid Baru Melalui MPLS RAMAH 2026, Tanamkan Karakter dan Budaya Industri
YOGYAKARTA – Sebanyak 720 murid baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMKN 3 Yogyakarta yang berlangsung pada 13–17 Juli 2026. Mengusung tema “MPLS RAMAH 2026: Level Up Together, Win The Future”, kegiatan ini menjadi langkah awal bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah, membangun karakter, sekaligus memahami budaya industri yang menjadi ciri khas pendidikan vokasi di SMKN 3 Yogyakarta.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk mendukung proses adaptasi secara menyenangkan, aman, dan edukatif. Konsep MPLS Ramah diterapkan dengan mengedepankan lingkungan belajar yang inklusif, bebas dari perundungan maupun kekerasan, sehingga murid baru dapat menjalani masa transisi dari jenjang sebelumnya dengan nyaman.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 3 Yogyakarta, Faiz Mudhoki, S.Pd., M.Pd., mengatakan bahwa MPLS bukan sekadar kegiatan pengenalan lingkungan sekolah, tetapi menjadi fondasi awal dalam membentuk karakter peserta didik. “Kami ingin sejak hari pertama murid memahami bahwa menjadi bagian dari SMKN 3 Yogyakarta berarti siap belajar menjadi pribadi yang disiplin, jujur, bertanggung jawab, saling menghargai, dan memiliki semangat untuk terus berkembang,” ujarnya.
Menurut Faiz, sekolah juga ingin menumbuhkan rasa memiliki terhadap lingkungan sekolah sejak hari pertama. Dengan terciptanya suasana yang nyaman dan saling menerima, proses belajar diharapkan dapat berlangsung lebih optimal sehingga karakter positif tumbuh dari kesadaran, bukan karena paksaan.
Pada hari pertama, peserta mengikuti upacara pembukaan, dilanjutkan dengan pengenalan lingkungan dan budaya sekolah, wawasan wiyata, visi dan misi sekolah, organisasi sekolah, serta berbagai keunggulan yang dimiliki SMKN 3 Yogyakarta. Murid juga memperoleh materi mengenai sekolah sehat, perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengenalan Mars dan Hymne SMKN 3 Yogyakarta sebagai bagian dari pembentukan identitas sekolah.
Hari kedua diisi dengan materi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, etika bermedia sosial, serta Pendidikan Khas Kejogjaan. Selanjutnya, pada hari ketiga peserta dikenalkan dengan profil konsentrasi keahlian, guru, tenaga kependidikan, program pembelajaran, hingga kunjungan ke bengkel dan laboratorium untuk mengenal budaya industri serta penerapan prinsip 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) di lingkungan sekolah.
Rangkaian kegiatan berlanjut pada hari keempat melalui display ekstrakurikuler yang memberikan kesempatan kepada murid baru mengenal berbagai organisasi dan wadah pengembangan minat serta bakat. Selain itu, peserta juga mengikuti asesmen sebagai bagian dari pemetaan awal untuk mendukung proses pembinaan selama menempuh pendidikan di SMKN 3 Yogyakarta.
Memasuki hari terakhir, peserta mengikuti senam bersama, school tour, lomba menyanyikan Mars dan Hymne SMKN 3 Yogyakarta, penyampaian kesan dan pesan, pengumuman penghargaan, hingga apel penutupan sebagai penanda berakhirnya rangkaian MPLS.
Faiz menegaskan, penerapan MPLS Ramah di SMKN 3 Yogyakarta tidak hanya mengikuti kebijakan pemerintah, tetapi juga dipadukan dengan budaya sekolah yang selama ini dikembangkan, yakni budaya industri dan pembinaan karakter. “Yang menjadi kekhasan di SMKN 3 Yogyakarta adalah kami memadukan semangat MPLS Ramah dengan budaya industri dan pembinaan karakter. Murid dikenalkan pada kebiasaan positif seperti disiplin, budaya 5S, kerja sama, komunikasi yang baik, serta tanggung jawab sebagai bekal memasuki dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kakak kelas yang terlibat dalam pelaksanaan MPLS berperan sebagai pendamping sekaligus teladan bagi murid baru, bukan sebagai pihak yang menguji atau memberikan hukuman. “Kami ingin murid baru dapat beradaptasi dengan percaya diri, mengenal lingkungan sekolah dengan nyaman, dan memulai perjalanan belajarnya di Skagata dengan pengalaman yang positif. Pada akhirnya, kami berharap MPLS menjadi awal terbentuknya budaya sekolah yang hangat, saling menghargai, serta berorientasi pada pengembangan karakter dan potensi setiap murid,” tutupnya.







