FESTA MANGAJAPA, 2.000 Siswa SMKN 3 Yogyakarta Hidupkan Seni dan Budaya di Usia ke-61
YOGYAKARTA, 20 Agustus 2026 — Sekitar 2.000 siswa SMK Negeri 3 Yogyakarta terlibat dalam FESTA MANGAJAPA, rangkaian perayaan HUT ke-61 SMK Negeri 3 Yogyakarta sekaligus HUT ke-81 Republik Indonesia yang berlangsung pada 18–20 Agustus 2026. Mengusung semangat seni, budaya, kreativitas, dan kebersamaan, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus menghidupkan kembali berbagai bentuk kebudayaan tradisional Indonesia, khususnya budaya Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
FESTA MANGAJAPA dirancang bukan hanya sebagai perayaan bertambahnya usia sekolah, tetapi juga sebagai wadah untuk menumbuhkan rasa cinta, kebanggaan, dan kesadaran siswa terhadap kebudayaan tradisional. Melalui berbagai perlombaan dan pertunjukan, siswa didorong mengembangkan kreativitas, inovasi, kemampuan berkolaborasi, serta pengalaman berkesenian dan berbudaya secara langsung.
Nama “MANGAJAPA” memiliki makna filosofis sebagai “harapan” dan dapat pula dimaknai sebagai “berdoalah”. Makna tersebut merepresentasikan untaian doa dan asa agar SMK Negeri 3 Yogyakarta terus tumbuh menjadi institusi pendidikan yang unggul dan berprestasi, serta memperoleh dukungan penuh dari seluruh civitas akademika.
Semangat tersebut diwujudkan melalui keterlibatan siswa kelas X, XI, dan XII dalam beragam kegiatan. Siswa kelas X mengikuti Lomba Batik Ikat Celup dan Ecoprint, Lomba Stand Makanan Tradisional, serta berbagai lomba tradisional. Siswa kelas XI berpartisipasi dalam Lomba Tari Kerakyatan, Lomba Stand Makanan Tradisional, lomba tradisional, dan turnamen sepak bola. Sementara itu, siswa kelas XII mengikuti Festival Upacara Adat, Lomba Stand Makanan Tradisional, lomba tradisional, serta turnamen sepak bola.
Rangkaian kegiatan dimulai pada Selasa, 18 Agustus 2026 dengan Senam Ceria, kemudian dilanjutkan berbagai lomba semarak HUT RI. Siswa berkompetisi dalam sejumlah permainan, seperti mancing kerupuk, gobak sodor, sarung terbang, estafet sarung, bakiak/egrang, dan sepak bola sarung.
Memasuki Rabu, 19 Agustus 2026, nuansa seni dan budaya semakin kuat melalui Lomba Tari Kerakyatan, Drama Upacara Adat, serta Pasar Skagata. Rangkaian hari kedua kemudian dilanjutkan dengan hiburan campursari.
Ragam kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran di luar kelas. Siswa tidak hanya mengikuti perlombaan, tetapi juga terlibat dalam proses mengenal, mengolah, dan menampilkan berbagai bentuk seni serta budaya. Pada saat yang sama, kegiatan mempertemukan siswa, guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah dalam aktivitas bersama yang memperkuat silaturahmi dan sinergi warga sekolah.
Puncak FESTA MANGAJAPA berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026 di Hall Gathutkaca SMK Negeri 3 Yogyakarta. Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars SMKN 3 Yogyakarta, penampilan Uyon-uyon, serta penampilan Tari Sekar Pudyastuti.
Puncak perayaan juga menghadirkan sambutan Kepala SMK Negeri 3 Yogyakarta dan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY. Agenda tersebut dilanjutkan dengan doa syukur dan pemotongan tumpeng, seremonial perpisahan Pak Maryuli dan Bu Betti, serta pengumuman kejuaraan dan penyerahan hadiah kepada para pemenang.
Kepala SMK Negeri 3 Yogyakarta, Widada, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru, karyawan, dan siswa yang terlibat dalam penyelenggaraan kegiatan. Ia juga memberikan penghargaan kepada Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dan Kesiswaan serta seluruh jajaran panitia yang melibatkan unsur guru, karyawan, dan siswa sehingga rangkaian kegiatan dapat terlaksana sejak 18 Agustus hingga puncak acara.
Menurut Widada, tema Mangajapa menjadi representasi harapan seluruh keluarga besar SMK Negeri 3 Yogyakarta untuk kebaikan dan keselamatan tanpa rintangan. Memasuki usia ke-61, ia berharap bertambahnya usia sekolah tidak mengurangi energi dan semangat warga sekolah untuk terus berkarya. “Saya berharap energi, semangat kita semua keluarga SMKN 3 Yogyakarta bukan seperti semangat yang sudah lansia, tetapi semangatnya tetap jiwa muda.”
Pernyataan tersebut menjadi refleksi bahwa usia sekolah yang telah mencapai 61 tahun tidak seharusnya identik dengan berkurangnya semangat. Sebaliknya, pengalaman panjang sekolah diharapkan menjadi modal untuk terus bergerak, beradaptasi, dan menghadirkan inovasi dalam pendidikan.
Sementara itu, Kabid Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Dr. Wiwik Indriyani, S.Pd., M.Si., yang hadir mewakili Kepala Dinas Dikpora DIY, mengatakan bahwa peringatan ulang tahun sekolah merupakan momentum untuk merefleksikan perjalanan panjang sekaligus kontribusi keluarga sekolah dalam pendidikan. Menurut Wiwik, pendidikan di Indonesia saat ini menghadapi tantangan sekaligus peluang di tengah transformasi pendidikan. Kondisi tersebut menuntut sekolah untuk semakin adaptif dan kreatif, sekaligus memperkuat karakter serta keterampilan abad ke-21.
Dalam konteks pendidikan vokasi, ia menilai SMK memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang siap memasuki dunia kerja, memiliki daya saing, dan mampu berwirausaha. “Pendidikan vokasi yang di dalamnya SMK memiliki peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang siap bekerja, berdaya saing, sekaligus mampu berwirausaha.”
Wiwik juga menyampaikan apresiasi terhadap SMK Negeri 3 Yogyakarta yang dinilai telah menunjukkan komitmen dalam mencetak peserta didik yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki integritas, kreativitas, dan semangat kebangsaan melalui berbagai program sekolah, termasuk program ketarunaan.
Ia menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan fasilitas, tetapi juga oleh budaya sekolah yang mampu membangun kolaborasi, mendorong inovasi, dan tetap berakar pada nilai-nilai budaya.
Karena itu, Wiwik mengajak seluruh warga SMK Negeri 3 Yogyakarta untuk terus memperkuat semangat gotong royong, menjaga tradisi, sekaligus membuka diri terhadap perkembangan teknologi dan globalisasi.
Atas nama Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY, Wiwik menyampaikan apresiasi atas kiprah dan dedikasi SMK Negeri 3 Yogyakarta selama 61 tahun. Ia berharap SMK Negeri 3 Yogyakarta semakin maju, menjadi teladan, dan terus melahirkan peserta didik yang berkarakter, kompeten, dan berdaya saing.
Rangkaian puncak FESTA MANGAJAPA kemudian dilanjutkan dengan Kethoprak Kolaborasi “Luh Ing Kasetyan”. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi seni yang melengkapi rangkaian kegiatan sekaligus memperkuat pesan kolaborasi dalam perayaan HUT ke-61 SMK Negeri 3 Yogyakarta.
Kehadiran berbagai bentuk seni dan budaya dalam FESTA MANGAJAPA menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi bagian dari pengalaman pendidikan generasi muda. Melalui tari, drama upacara adat, batik, ecoprint, makanan tradisional, permainan tradisional, hingga kethoprak, siswa mendapatkan kesempatan untuk tidak sekadar mengenal budaya sebagai pengetahuan, tetapi juga mengalami dan menampilkannya secara langsung.
Bagi SMK Negeri 3 Yogyakarta, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya membangun peserta didik yang memiliki keseimbangan antara kompetensi, karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. Nilai-nilai tersebut semakin relevan dalam pendidikan vokasi yang dituntut mampu menjawab kebutuhan dunia kerja sekaligus perkembangan teknologi dan masyarakat.
Dengan melibatkan sekitar 2.000 siswa, FESTA MANGAJAPA menjadi momentum yang mempertemukan semangat kemerdekaan, perjalanan 61 tahun sekolah, kreativitas generasi muda, dan pelestarian budaya dalam satu rangkaian kegiatan.
Pada akhirnya, MANGAJAPA bukan hanya menjadi nama perayaan, melainkan sebuah harapan dan doa bagi perjalanan SMK Negeri 3 Yogyakarta. Di usia ke-61, sekolah diharapkan terus bergerak dengan semangat jiwa muda, adaptif terhadap perubahan, kuat dalam nilai budaya, serta konsisten melahirkan generasi vokasi yang berkarakter, kompeten, dan berdaya saing.






