SMKN 3 Yogyakarta Hidupkan Nilai Keistimewaan DIY Lewat Upacara Berbahasa Jawa dan Gagrag Yogyakarta
YOGYAKARTA — Lebih dari 2.000 warga SMK Negeri 3 Yogyakarta mengenakan pakaian Gagrag Yogyakarta dan mengikuti seluruh rangkaian upacara menggunakan bahasa Jawa dalam peringatan pengesahan Undang-Undang tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Senin (31/8/2026). Digelar di Lapangan Indraprastha SMKN 3 Yogyakarta, kegiatan tersebut menjadi agenda khusus sekolah untuk menghidupkan nilai-nilai keistimewaan DIY melalui budaya dan pendidikan karakter.
Upacara diikuti oleh siswa kelas X, XI, dan XII, guru, serta karyawan SMKN 3 Yogyakarta. Keseluruhan peserta mengenakan Gagrag Yogyakarta, sementara bahasa Jawa digunakan dalam seluruh rangkaian upacara. Pelaksanaan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengalami secara langsung praktik budaya Yogyakarta, bukan sekadar mengenalnya sebagai bagian dari sejarah dan identitas daerah.
Kepala SMKN 3 Yogyakarta, Widada, S.Pd., M.Pd., dalam amanatnya menegaskan bahwa keistimewaan Yogyakarta tidak hanya berkaitan dengan sejarah yang tercatat dalam berbagai pustaka, tetapi juga merupakan warisan nilai luhur, budi pekerti, dan jiwa kebangsaan yang perlu dilestarikan oleh generasi muda.
Menurut Widada, nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan sekolah. Ia menekankan tiga hal yang menjadi bagian penting dari penerapan nilai Keistimewaan DIY, yakni unggah-ungguh dan budi pekerti, semangat kridha dan prestasi, serta gotong royong dan menjaga kerukunan.
Dalam hal unggah-ungguh dan budi pekerti, siswa didorong untuk menjaga tata krama, menggunakan tutur kata yang santun, serta menghormati orang tua dan guru. Bagi Widada, hal tersebut merupakan salah satu bentuk nyata dari nilai budaya Yogyakarta yang perlu terus dijaga oleh generasi muda.
Sementara itu, nilai Keistimewaan DIY juga diharapkan berjalan beriringan dengan semangat siswa untuk berkarya dan berprestasi. Siswa SMKN 3 Yogyakarta diarahkan menjadi generasi yang memiliki keterampilan, mandiri, dan siap memasuki dunia kerja dengan tetap membawa karakter luhur serta kejujuran. “Keistimewaan Ngayogyakarta menika boten amung babagan sejarah ingkang kaserat wonten ing pustaka, nanging minangka wujud warisan leluhur bab nilai-nilai luhur, budi pekerti, lan jiwa kebangsaan ingkang kedah kita lestantunaken lan kita udi sesarengan,” demikian disampaikan Widada dalam amanatnya.
Pesan tersebut juga mencakup semangat golong gilig, yakni kesatuan tekad yang diwujudkan melalui persaudaraan di lingkungan sekolah, menjaga kebersihan, serta bersama-sama menjaga nama baik sekolah.
Bagi siswa, pelaksanaan upacara dengan bahasa Jawa memberikan pengalaman tersendiri. Wahyu Putra Anugrah, siswa kelas XII TL 4 yang bertugas sebagai Komandan Upacara, mengaku baru pertama kali memimpin upacara menggunakan bahasa Jawa. “Ini menjadi pengalaman pertama bagi saya, saya baru sekali ini memimpin upacara menggunakan bahasa Jawa,” ujar Wahyu.
Meski menjadi pengalaman pertama, Wahyu melihat penggunaan bahasa Jawa dalam upacara tersebut sebagai bagian dari upaya menerapkan nilai Keistimewaan DIY dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap sopan santun kepada bapak dan ibu guru, menghormati sesama siswa, serta menjaga unggah-ungguh ketika berada di tengah masyarakat.
Pengalaman Wahyu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus ditempatkan dalam ruang yang terpisah dari pendidikan vokasi. Bahasa, tata krama, dan nilai budaya dapat hadir bersamaan dengan proses pembentukan karakter siswa yang dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, maupun hidup di tengah masyarakat.
Pelaksanaan upacara juga melibatkan Tonti Bara SMK Negeri 3 Yogyakarta sebagai petugas upacara, Skagata Voice bersama siswa XI TM 1 dan XI TM 2 sebagai paduan suara, serta PMR WKB SMK Negeri 3 Yogyakarta sebagai tim kesehatan.
Melalui peringatan tersebut, SMKN 3 Yogyakarta menempatkan Keistimewaan DIY tidak sebatas sebagai identitas daerah, tetapi sebagai nilai yang dapat diterapkan dalam keseharian siswa. Penggunaan bahasa Jawa dan Gagrag Yogyakarta menjadi bagian dari upaya menghadirkan budaya secara nyata di lingkungan sekolah.
Widada berharap peringatan tersebut dapat mendorong seluruh warga sekolah untuk tidak hanya merasa bangga hidup di tanah Keistimewaan, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan Yogyakarta dan Indonesia. “Wujudaken bilih SMK Negeri 3 Yogyakarta menika sekolah ingkang unggul ing prestasi lan adiluhung ing budi pekerti,” pesan Widada.
Dengan lebih dari 2.000 peserta yang mengenakan Gagrag Yogyakarta dan mengikuti seluruh rangkaian upacara dalam bahasa Jawa, peringatan tersebut menjadi momentum bagi SMKN 3 Yogyakarta untuk mempertemukan budaya, karakter, dan pendidikan vokasi. Nilai Keistimewaan DIY diharapkan tidak berhenti dalam sebuah upacara, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang tercermin melalui unggah-ungguh, prestasi, kemandirian, gotong royong, dan sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari.






